Pasar aset digital global memasuki fase yang sangat menentukan pada Februari 2026. Setelah reli kuat sepanjang tahun sebelumnya, harga Bitcoin kini berada dalam tekanan signifikan dan bergerak di kisaran level psikologis penting. Kapitalisasi pasar kripto global menyusut tajam dalam beberapa pekan terakhir, memicu kekhawatiran bahwa fase distribusi sedang berlangsung dan potensi koreksi lanjutan masih terbuka lebar.
Tekanan Harga dan Level Psikologis
Dalam beberapa hari terakhir, Bitcoin sempat diperdagangkan di sekitar area USD 63.000–65.000, turun dari puncak lokalnya. Level ini bukan sekadar angka teknikal, tetapi juga zona psikologis yang menjadi acuan pelaku pasar institusional maupun ritel. Break di bawah area tersebut berpotensi memicu gelombang likuidasi tambahan, terutama pada posisi leverage tinggi di pasar derivatif.
Secara teknikal, indikator Relative Strength Index (RSI) pada grafik harian menunjukkan pelemahan momentum. Volume transaksi juga cenderung menurun saat terjadi pantulan harga, mengindikasikan bahwa reli kecil yang muncul lebih bersifat technical rebound daripada pembalikan tren yang solid.
Di sisi lain, aset kripto utama lain seperti Ethereum juga mengalami tekanan serupa. Korelasi yang tinggi antar-aset kripto memperkuat narasi bahwa ini bukan sekadar rotasi sektoral, melainkan fase risk-off yang lebih luas.
Faktor Makroekonomi: Dolar AS dan Kebijakan Moneter
Salah satu variabel paling dominan dalam pelemahan kripto saat ini adalah penguatan dolar AS. Indeks dolar atau US Dollar Index menunjukkan stabilitas relatif tinggi, mencerminkan permintaan global terhadap mata uang cadangan dunia tersebut.
Kuatnya dolar biasanya berdampak negatif terhadap aset berisiko, termasuk saham teknologi dan kripto. Investor global cenderung memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman dan likuid ketika ketidakpastian meningkat.
Selain itu, kebijakan suku bunga dari Federal Reserve masih menjadi perhatian utama. Walaupun inflasi menunjukkan tren moderasi, bank sentral AS belum memberikan sinyal agresif untuk pelonggaran moneter. Lingkungan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama (higher for longer) mengurangi daya tarik aset non-yielding seperti Bitcoin.
Kripto, yang selama periode suku bunga rendah menikmati arus likuiditas besar, kini menghadapi realitas baru: biaya modal yang lebih mahal dan investor yang lebih selektif.
Arus Keluar ETF dan Sentimen Institusional
Perkembangan penting lainnya adalah arus keluar dari produk ETF berbasis Bitcoin. Sejumlah dana yang sebelumnya menjadi motor reli kini mencatat net outflow signifikan. Beberapa analis mencatat bahwa dana besar seperti BlackRock dan penerbit ETF lainnya mengalami penurunan minat investor jangka pendek terhadap eksposur kripto.
Arus keluar ini bukan berarti institusi sepenuhnya meninggalkan pasar, tetapi mencerminkan pendekatan taktis dalam manajemen risiko. Ketika volatilitas meningkat dan prospek makro tidak pasti, pengurangan eksposur menjadi langkah defensif yang rasional.
Likuiditas yang menipis di pasar spot juga memperparah volatilitas. Order book menjadi lebih tipis, sehingga pergerakan harga dapat terjadi lebih tajam meski dengan volume relatif kecil.
Divergensi dengan Emas
Menariknya, di tengah tekanan pada kripto, harga emas justru menunjukkan ketahanan. Logam mulia tersebut kembali diposisikan sebagai safe haven klasik dalam periode ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.
Narasi “Bitcoin sebagai emas digital” kembali diuji. Dalam teori, Bitcoin dirancang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan mata uang fiat. Namun dalam praktiknya, perilaku harga Bitcoin masih sangat dipengaruhi sentimen risiko global, mirip dengan saham teknologi berkapitalisasi besar.
Divergensi ini memperlihatkan bahwa pasar masih melihat Bitcoin sebagai aset spekulatif dengan potensi pertumbuhan tinggi, bukan semata-mata penyimpan nilai konservatif seperti emas.
Data On-Chain: Apa yang Terjadi di Balik Layar?
Dari perspektif on-chain, sejumlah indikator menunjukkan aktivitas distribusi oleh holder jangka pendek. Alamat yang membeli pada harga lebih tinggi mulai merealisasikan kerugian, tercermin dari meningkatnya realized loss.
Namun, holder jangka panjang relatif stabil dan belum menunjukkan tanda-tanda panic selling masif. Rasio supply yang tidak bergerak selama lebih dari satu tahun tetap tinggi, menandakan bahwa keyakinan struktural terhadap prospek jangka panjang Bitcoin masih terjaga.
Hash rate jaringan juga tetap mendekati level tinggi, menunjukkan bahwa penambang (miners) masih percaya terhadap fundamental jangka panjang meskipun margin keuntungan tertekan oleh harga yang lebih rendah dan biaya operasional yang meningkat.
Risiko Likuidasi dan Pasar Derivatif
Pasar derivatif kripto menjadi faktor penting dalam dinamika saat ini. Open interest pada kontrak futures dan perpetual swap sempat meningkat sebelum koreksi tajam terjadi. Ketika harga menembus support kunci, likuidasi otomatis mempercepat penurunan.
Fenomena ini menciptakan efek bola salju: penurunan harga memicu likuidasi, likuidasi memicu penurunan lebih lanjut. Dalam kondisi likuiditas rendah, efek tersebut menjadi lebih ekstrem.
Funding rate yang sebelumnya positif kini cenderung netral atau negatif, menunjukkan bahwa sentimen bullish agresif mulai mereda.
Apakah Ini Awal Crypto Winter Baru?
Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah pasar sedang memasuki fase “crypto winter” baru atau hanya mengalami koreksi sehat dalam tren bullish jangka panjang.
Secara historis, Bitcoin mengalami beberapa siklus boom and bust yang tajam. Namun, struktur pasar saat ini berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Partisipasi institusional lebih besar, regulasi lebih jelas, dan infrastruktur perdagangan lebih matang.
Volatilitas memang tetap tinggi, tetapi kedalaman pasar dan adopsi global jauh lebih luas. Oleh karena itu, sebagian analis berpendapat bahwa koreksi ini merupakan fase konsolidasi sebelum pergerakan besar berikutnya, bukan keruntuhan struktural.
Skenario ke Depan
Terdapat tiga skenario utama dalam jangka menengah:
-
Konsolidasi Sideways
Harga bergerak dalam rentang sempit selama beberapa minggu atau bulan, membangun basis baru sebelum arah selanjutnya ditentukan. -
Breakdown Lebih Dalam
Jika support utama ditembus dengan volume besar, potensi penurunan ke area USD 58.000–60.000 terbuka. Zona ini dapat menjadi area akumulasi baru bagi investor jangka panjang. -
Rebound Berbasis Katalis Positif
Katalis seperti pelonggaran kebijakan moneter, data inflasi yang lebih jinak, atau arus masuk ETF baru dapat memicu pembalikan tren cepat.
Kesimpulan
Pasar kripto saat ini benar-benar berada di titik kritis. Tekanan makroekonomi, penguatan dolar AS, arus keluar ETF, dan sentimen risk-off global membentuk kombinasi yang kompleks. Bitcoin tidak hanya menghadapi tantangan teknikal, tetapi juga ujian terhadap narasi fundamentalnya sebagai aset lindung nilai.
Meski demikian, fondasi jangka panjang seperti adopsi institusional, infrastruktur blockchain yang semakin matang, dan partisipasi global tetap memberikan landasan struktural yang kuat.
Bagi investor dan pelaku pasar, fase ini menuntut disiplin manajemen risiko yang ketat, evaluasi ulang strategi portofolio, serta pemahaman bahwa volatilitas adalah karakter inheren dari aset digital.
Apakah ini sekadar koreksi sementara atau awal fase penurunan lebih panjang akan sangat ditentukan oleh dinamika likuiditas global dan arah kebijakan moneter dalam beberapa bulan mendatang. Yang jelas, pasar kripto sedang berada pada momen penentu yang akan membentuk tren 2026 secara keseluruhan.