Pertandingan antara Atalanta dan Athletic Bilbao pada matchday ketujuh fase grup Liga Champions musim 2025/2026 menjadi salah satu laga yang paling mengesankan di awal tahun 2026. Berlangsung di New Balance Arena, Bergamo, Italia, pada tanggal 21 Januari 2026, pertarungan ini menyajikan narasi klasik tentang ketahanan mental, adaptasi taktik, dan kekuatan karakter yang akhirnya mempertemukan dua tim dalam duel emosional berakhir dengan kemenangan dramatis 3-2 untuk tim tamu asal Spanyol.
Laga ini bukan sekadar pertandingan biasa dalam kompetisi elite Eropa. Bagi Athletic Bilbao, yang diasuh oleh pelatih berpengalaman Ernesto Valverde, kemenangan ini menjadi penentu nasib mereka dalam perburuan tiket playoff babak 16 besar. Sementara itu, Atalanta yang tampil di hadapan pendukung sendiri berusaha mempertahankan posisi mereka untuk lolos otomatis ke fase gugur tanpa harus melalui pertarungan tambahan yang penuh risiko.
Babak pertama berlangsung dengan dominasi tuan rumah yang nyaris sempurna. Atalanta menampilkan permainan agresif dengan tekanan tinggi sejak menit awal, membuat para pemain Bilbao kesulitan mengembangkan permainan khas mereka yang mengandalkan transisi cepat dan dominasi bola di area tengah. Tekanan terus-menerus akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-16 ketika Gianluca Scamacca berhasil membobol gawang Unai Simon. Gol tersebut lahir dari kerja sama apik Nicola Zalewski yang mengirimkan umpan silang melengkung dari sisi kiri, dan Scamacca dengan tenang menyundul bola ke sudut gawang tanpa bisa dihalau oleh sang kiper.
Keunggulan 1-0 ini seolah memperkuat keyakinan Atalanta bahwa malam itu akan menjadi milik mereka. Mereka terus menekan, menciptakan beberapa peluang berbahaya lainnya, namun entah karena kurang tajamnya finishing atau kehandalan pertahanan Bilbao yang dipimpin oleh Inigo Martinez dan Yeray Alvarez, skor tidak berubah hingga jeda babak. Suasana di tribune penonton tampak optimis, dengan para suporter La Dea yakin tim kesayangan mereka akan melanjutkan tren positif dan mengamankan poin penuh.
Namun, sepakbola seringkali mengajarkan kita bahwa narasi bisa berubah dalam waktu singkat, terutama di level tertinggi kompetisi antarklub Eropa. Memasuki babak kedua, tim tamu yang dipimpin oleh Valverde melakukan penyesuaian taktis yang signifikan. Bilbao mulai menampilkan permainan yang lebih kompak di lini tengah, mengurangi celah yang bisa dieksploitasi oleh serangan cepat Atalanta, sekaligus meningkatkan intensitas pressing mereka di area yang lebih tinggi.
Transformasi ini mulai terlihat hasilnya sekitar menit ke-58 ketika Gorka Guruzeta berhasil menyamakan kedudukan. Gol tersebut merupakan hasil dari serangan terstruktur yang memperlihatkan kematangan taktik Bilbao. Guruzeta menemukan ruang di tengah kotak penalti dan melepaskan tembakan bersih yang tidak bisa diantisipasi oleh kiper Atalanta, Marco Carnesecchi. Sambaran itu seperti memberikan suntikan energi baru bagi seluruh tim Basque, yang mulai percaya bahwa comeback adalah mungkin.
Titik balik yang sesungguhnya terjadi pada menit ke-70 ketika Ernesto Valverde melakukan pergantian yang terbukti jenius. Nico Serrano, pemain muda yang masuk menggantikan Unai Gomez hanya dua menit sebelumnya, langsung memberikan impact luar biasa. Dengan energi segar dan determinasi tinggi, Serrano berhasil mencetak gol kedua bagi Bilbao setelah menerima umpan manis dari Robert Navarro. Gol ini tidak hanya membalikkan keadaan, tetapi juga secara psikologis meruntuhkan mentalitas para pemain Atalanta yang sejak menit pertama merasa menguasai pertandingan.
Keunggulan 2-1 seolah belum cukup memuaskan nafsu comeback Bilbao. Hanya empat menit berselang, tepatnya di menit ke-74, Robert Navarro yang sebelumnya menjadi kreator gol, kini menjadi eksekutor. Navarro berhasil menyelinap melewati jebakan offside dan dengan tenang menaklukkan Carnesecchi untuk membawa Bilbao unggul 3-1. Dua gol dalam waktu singkat ini benar-benar menghancurkan harapan Atalanta untuk mengamankan poin penuh di kandang sendiri.
Namun, karakter tim asuhan Gian Piero Gasperini tidak bisa diremehkan begitu saja. Menjelang akhir pertandingan, Atalanta berhasil mencetak gol kedua melalui Nikola Krstovic. Gol ini lahir dari kerja sama apik Charles De Ketelaere yang mengirimkan umpan silang presisi dari sisi kanan, dan Krstovic yang berdiri bebas di depan gawang hanya perlu menyentuh bola untuk mengubah skor menjadi 2-3.
Menit-menit terakhir menjadi tegang bagi kedua belah pihak. Atalanta terus menekan mencari gol penyama, sementara Bilbao bertahan dengan segala cara untuk menjaga keunggulan tipis. Beberapa peluang berbahaya tercipta, namun baik Unai Simon maupun barisan pertahanan Bilbao berhasil mengamankan gawang mereka hingga wasit meniup peluit panjang.
Kemenangan 3-2 ini memiliki implikasi besar bagi klasemen grup dan prospek kedua tim di Liga Champions. Bagi Athletic Bilbao, tiga poin berharga ini menjaga asa mereka untuk lolos ke babak playoff. Mereka masih memiliki pekerjaan rumah di matchday terakhir saat menjamu Sporting CP di San Mames. Kemenangan di laga terakhir menjadi syarat mutlak agar mereka bisa melanjutkan perjalanan di kompetisi elite Eropa ini.
Sebaliknya, kekalahan ini menempatkan Atalanta dalam posisi yang jauh lebih rumit. Mereka kini terpaksa harus meraih kemenangan di laga tandang melawan Union Saint-Gilloise pada pertandingan pamungkas grup untuk bisa mengamankan posisi otomatis ke babak 16 besar. Kegagalan meraih kemenangan bisa membuat mereka terlempar ke posisi playoff atau bahkan tersingkir sama sekali, sesuatu yang tentu sangat mengecewakan mengingat performa impresif mereka di babak pertama musim ini.
Dari sisi taktis, pertandingan ini menjadi studi menarik tentang pentingnya adaptasi di tengah pertandingan. Ernesto Valverde terbukti mampu membaca permainan dan melakukan perubahan yang efektif di babak kedua, sementara Atalanta tampak kehilangan kendali setelah kebobolan gol pertama. Mentalitas tim juga menjadi faktor penentu; Bilbao menunjukkan karakter juara dengan tidak menyerah meski tertinggal dan bermain di kandang lawan yang dikenal sangat intimidatif.
Individu-individu tertentu patut mendapatkan pujian atas performa mereka. Robert Navarro menjadi salah satu bintang lapangan dengan kontribusi satu gol dan satu assist. Gorka Guruzeta menunjukkan ketajaman insting predatornya, sementara Nico Serrano membuktikan bahwa para pemain muda bisa menjadi penentu dalam momen-momen penting. Di sisi Atalanta, Gianluca Scamacca menunjukkan kualitasnya dengan gol pembuka, namun sayangnya kontribusinya tidak cukup untuk membawa timnya meraih hasil positif.
Laga ini juga menambah daftar pertemuan dramatis antara tim Spanyol dan Italia di kompetisi Eropa. Rivalitas dua negara dengan kekuatan sepakbola yang seimbang ini selalu menghasilkan pertandingan-pertandingan yang penuh gairah, taktik cermat, dan momen-momen tak terlupakan. Comeback Athletic Bilbao di Bergamo akan dikenang sebagai salah satu malam paling epik dalam perjalanan mereka di Liga Champions musim ini.
Bagi para penggemar sepakbola, pertandingan ini menjadi pengingat bahwa sepakbola adalah olahraga yang penuh dengan ketidakpastian. Keunggulan di babak pertama tidak menjamin kemenangan, dan tim yang tampil lebih dominan belum tentu yang akan meraih tiga poin. Yang terpenting adalah kemampuan untuk bertahan dalam tekanan, memanfaatkan peluang dengan efisien, dan tetap percaya hingga peluit panjang berbunyi.
Atas kemenangan ini, Athletic Bilbao tidak hanya meraih tiga angka di klasemen, tetapi juga membangun kepercayaan diri yang sangat dibutuhkan menghadapi fase-fase krusial musim ini. Sementara Atalanta harus segera melupakan kekalahan ini dan fokus pada tugas berat yang menanti di Belgia, di mana mereka harus menang untuk memastikan tempat di babak sistem gugur tanpa harus melalui jalur playoff yang berisiko. Sepakbola memang penuh dengan drama, dan malam di Bergamo ini telah menulis babak baru dalam sejarah kompetisi paling bergengsi di benua Eropa.