1. Pendahuluan
Pada akhir Januari 2026, dolar Amerika Serikat (USD) mengalami penurunan tajam yang mendorong indeks dolar (DXY) ke kisaran 95,00‑96,00, level terendah sejak awal 2022. Penurunan ini menandai perubahan signifikan dalam dinamika nilai tukar global, mengingat peran USD sebagai mata uang cadangan utama dunia selama lebih dari setengah abad. Artikel ini menyajikan analisis komprehensif mengenai faktor‑faktor yang memicu penurunan dolar, dampaknya terhadap pasar keuangan internasional, serta prospek kebijakan moneter Amerika Serikat ke depan.
2. Latar Belakang Historis Dolar AS
Sejak krisis keuangan global 2008, dolar telah menikmati posisi dominan sebagai aset safe‑haven. Pada periode 2014‑2019, nilai tukar dolar menguat secara konsisten berkat kebijakan moneter ketat Federal Reserve (Fed) dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi AS yang relatif kuat. Pada tahun 2020, pandemi COVID‑19 menimbulkan volatilitas tinggi, namun kebijakan stimulus fiskal dan moneter yang agresif memperkuat peran dolar sebagai “anchor” dalam portofolio global.
Namun, sejak pertengahan 2024, sejumlah indikator menunjukkan tekanan yang semakin besar pada dolar:
- Penurunan suku bunga acuan: Fed menurunkan suku bunga secara bertahap sebanyak tiga kali pada akhir 2025, menurunkan rentang federal funds rate menjadi 3,50 %‑3,75 %. Penurunan ini mengurangi selisih suku bunga (interest rate differential) antara AS dan zona euro atau Jepang, yang secara tradisional menjadi pendorong permintaan dolar.
- Defisit perdagangan yang melebar: Neraca perdagangan AS mencatat defisit sebesar USD 900 miliar pada tahun fiskal 2025, dipicu oleh impor energi dan bahan baku yang meningkat, sementara ekspor barang manufaktur tetap stagnan.
- Ketidakpastian politik: Kebijakan proteksionis yang diusulkan oleh administrasi Presiden Trump pada akhir 2025 menimbulkan ketegangan perdagangan dengan sekutu utama, memperlemah kepercayaan investor terhadap stabilitas kebijakan ekonomi AS.
Kombinasi faktor‑faktor di atas menyiapkan panggung bagi penurunan tajam yang terjadi pada Januari 2026.
3. Data dan Pergerakan Terkini
Berikut merupakan rangkaian data kunci yang menggambarkan dinamika dolar pada periode Januari 2026:
| Indikator | Nilai pada 27 Jan 2026 | Nilai pada 30 Jan 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| DXY (Dollar Index) | 96,5 | 95,2 | -1,3 poin (-1,35 %) |
| EUR/USD | 1,09 | 1,12 | +0,03 (+2,75 %) |
| USD/JPY | 138,0 | 141,5 | +3,5 (+2,54 %) |
| USD/CNY | 6,80 | 7,02 | +0,22 (+3,24 %) |
| Fed Funds Rate | 3,75 % | 3,75 % (stagnan) | — |
| Inflasi CPI (AS) | 3,2 % YoY | 3,3 % YoY | +0,1 % poin |
| Cadangan devisa global (dalam USD) | USD 5,2 triliun | USD 5,1 triliun | -0,02 triliun |
Catatan: DXY mengukur nilai dolar relatif terhadap enam mata uang utama (EUR, JPY, GBP, CAD, SEK, dan CHF). Penurunan sebesar 1,3 poin dalam tiga hari mencerminkan pelemahan luas di pasar spot.
4. Faktor‑Faktor Penyebab Penurunan
4.1 Kebijakan Moneter Fed yang Longgar
Kebijakan “higher for longer” yang diterapkan sejak 2022 berakhir pada akhir 2025 ketika Fed memutuskan untuk memotong suku bunga sebanyak 25 basis poin pada tiga pertemuan terpisah. Meskipun penurunan suku bunga bertujuan meredam tekanan pada sektor perumahan dan konsumsi, langkah tersebut secara otomatis menurunkan daya tarik aset‑aset berbasis dolar bagi investor institusional yang mencari imbal hasil lebih tinggi.
Selain itu, Fed menegaskan bahwa penurunan suku bunga bersifat “temporary” dan dapat diikuti dengan penyesuaian kembali jika tekanan inflasi kembali menguat. Ketidakpastian kebijakan ini menambah volatilitas pada pasar mata uang.
4.2 Pergerakan Kebijakan Fiskal AS
Pada akhir 2025, Kongres mengesahkan paket stimulus fiskal senilai USD 2 triliun yang menurunkan tarif pajak korporasi dari 21 % menjadi 18 %. Meskipun paket tersebut meningkatkan likuiditas domestik, ia juga menambah defisit anggaran menjadi USD 1,1 triliun per tahun, meningkatkan beban utang publik. Para analis menilai bahwa peningkatan rasio utang‑PDB dapat mengurangi kepercayaan terhadap dolar dalam jangka menengah.
4.3 Sentimen Global Terhadap Dolar
Berita-berita terkait “sell‑America” muncul secara meluas di platform media keuangan pada akhir Januari 2026. Investor institusional di Eropa dan Asia mulai mengalihkan sebagian alokasi mereka dari obligasi berdenominasi dolar ke obligasi sovereign euro, yen, dan bahkan mata uang kripto yang menawarkan diversifikasi.
Selain itu, kebijakan proteksionis AS, termasuk tarif tambahan pada barang‑barang teknologi impor, menurunkan ekspektasi pertumbuhan ekspor dan meningkatkan persepsi risiko geopolitik, sehingga mempercepat penjualan dolar sebagai aset safe‑haven.
4.4 Dampak Kenaikan Harga Komoditas
Harga emas dan perak melonjak di atas level rekor historis pada akhir Januari 2026 (emas > USD 5.500 per ons, perak > USD 120 per ons). Kenaikan harga logam mulia biasanya berhubungan dengan pelemahan dolar, karena logam tersebut dihargai dalam dolar. Kenaikan logam mulia memperkuat persepsi bahwa dolar sedang berada dalam fase penurunan nilai.
4.5 Pergerakan Pasar Energi
Kenaikan harga minyak mentah Brent ke USD 68,2 per barrel pada akhir Januari meningkatkan permintaan mata uang yang diperdagangkan di pasar energi, terutama yuan dan euro, yang sering dipakai untuk kontrak futures energi. Permintaan mata uang alternatif tersebut menambah tekanan pada dolar.
5. Dampak Penurunan Dolar terhadap Perekonomian Global
5.1 Dampak pada Neraca Perdagangan
- Negara Pengimpor Minyak: Penurunan dolar membuat impor minyak menjadi lebih mahal bagi negara‑negara yang membayar dalam dolar, meningkatkan tekanan inflasi pada ekonomi berbasis energi.
- Negara Eksportir Komoditas: Negara‑negara seperti Australia, Kanada, dan Brasil yang mengekspor bahan mentah melihat nilai ekspor mereka menguat karena harga komoditas dalam dolar menjadi lebih tinggi ketika dolar melemah.
5.2 Dampak pada Pasar Keuangan
- Obligasi Pemerintah AS: Yield obligasi Treasury AS menurun karena permintaan terhadap aset safe‑haven masih tinggi, meskipun nilai tukar dolar melemah. Namun, penurunan nilai dolar dapat meningkatkan beban pembayaran kembali utang luar negeri yang denominasi dalam mata uang asing.
- Pasar Saham: Perusahaan multinasional yang menghasilkan pendapatan signifikan dalam mata uang asing (misalnya, perusahaan teknologi dengan penjualan di Eropa) dapat memperoleh keuntungan tambahan ketika mengkonversi pendapatan tersebut ke dolar yang lebih lemah. Sebaliknya, perusahaan yang mengandalkan bahan baku yang dipatok dalam dolar dapat mengalami kenaikan biaya.
5.3 Dampak pada Inflasi Domestik
Pelemahan dolar biasanya meningkatkan harga barang impor, yang pada gilirannya menambah tekanan inflasi domestik. Data CPI pada Januari 2026 menunjukkan inflasi sebesar 3,3 % YoY, naik 0,1 poin dibandingkan bulan sebelumnya, mencerminkan sebagian efek tersebut.
5.4 Implikasi bagi Kebijakan Moneter Internasional
Bank sentral di zona euro, Jepang, dan Inggris mengamati penurunan dolar dengan cermat. Beberapa di antaranya, seperti European Central Bank (ECB), menyesuaikan perkiraan pertumbuhan inflasi ke atas, meskipun tetap mempertahankan kebijakan suku bunga pada level saat ini. Bank of Japan (BoJ) mempertimbangkan pengetatan kebijakan moneter lebih cepat daripada yang direncanakan sebelumnya untuk menyeimbangkan nilai tukar yen yang kini menguat.
6. Prospek Kebijakan Fed dan Dolar ke Depan
6.1 Skenario Kenaikan Suku Bunga
Sebagian analis memprediksi bahwa Fed akan mengubah sikap kebijakan pada kuartal keempat 2026 dan menaikkan suku bunga kembali sebesar 25‑50 basis poin untuk mengantisipasi risiko inflasi yang kembali menguat. Kenaikan suku bunga dapat memicu apresiasi kembali dolar, namun risiko “overshooting” tetap tinggi jika data inflasi tidak mendukung.
6.2 Skenario Stabilitas Dolar
Jika Fed memilih untuk menjaga suku bunga pada level netral 3,50‑3,75 % selama sisa tahun 2026, dolar kemungkinan akan tetap berada pada level antara 95‑98 poin DXY. Pada skenario ini, pasar akan menyesuaikan diri dengan nilai tukar yang lebih lemah dan mengalihkan alokasi investasi ke aset‑aset berdenominasi mata uang lain.
6.3 Skenario Depresi Dolar
Jika tekanan politik, fiskal, dan eksternal (misalnya, krisis energi) berlanjut, dolar dapat jatuh di bawah 94 poin DXY, mengembalikan level terendahnya pada awal 2022. Penurunan tersebut dapat menimbulkan kondisi “flight‑to‑risk”, di mana investor mencari aset‑aset berisiko lebih tinggi seperti ekuitas pasar berkembang atau mata uang kripto.
7. Implikasi Bagi Pelaku Pasar di Indonesia
Sebagai negara dengan ekonomi terbuka dan perdagangan internasional yang signifikan, Indonesia merasakan dampak penurunan dolar melalui beberapa mekanisme:
- Ekspor Komoditas: Nilai ekspor batu bara, nikel, dan kelapa sawit dapat meningkat karena harga dalam dolar naik, membantu menyeimbangkan neraca perdagangan.
- Impor Barang Konsumsi: Harga barang konsumsi impor, terutama elektronik dan kendaraan, cenderung naik, memberikan tekanan pada inflasi domestik.
- Investasi Portofolio: Investor institusional Indonesia yang memiliki eksposur pada obligasi Treasury AS dapat melihat penurunan nilai pasar portofolio mereka, sementara alokasi pada aset berdenominasi euro atau yen menjadi lebih menguntungkan.
- Kurs Rupiah: Dolar yang lemah dapat memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menstabilkan kurs rupiah, meskipun kebijakan moneter domestik tetap harus mempertimbangkan tekanan inflasi.
8. Kesimpulan
Penurunan dolar Amerika Serikat ke level terendah multi‑tahun pada akhir Januari 2026 merupakan hasil interaksi kompleks antara kebijakan moneter yang lebih longgar, defisit fiskal yang melebar, ketidakpastian politik, serta dinamika pasar komoditas dan energi global. Dampak penurunan ini terasa luas, mencakup perdagangan internasional, pasar keuangan, inflasi domestik, serta strategi kebijakan moneter di seluruh dunia.
Bagi para pembuat kebijakan, tantangan utama adalah menyeimbangkan kebutuhan pertumbuhan ekonomi dengan stabilitas nilai tukar. Bagi pelaku pasar, pemahaman mendalam mengenai alur modal lintas negara dan diversifikasi aset menjadi kunci untuk mengelola risiko yang muncul dari volatilitas dolar.
Meskipun prospek kebijakan Fed tetap tidak pasti, indikator‑indikator fundamental menunjukkan bahwa pergerakan dolar akan terus berada dalam rentang yang lebih lemah dibandingkan dengan periode sebelumnya. Pemantauan terus‑menerus terhadap data ekonomi AS, keputusan politik, serta pergerakan harga komoditas akan menjadi faktor penentu bagi arah nilai tukar dolar di paruh pertama 2026 dan seterusnya.