Pada peringatan World Cities Day 2025, UNESCO kembali menegaskan komitmennya terhadap pembangunan kota yang berkelanjutan dan berbasis kreativitas. Dalam kesempatan tersebut, UNESCO secara resmi mengumumkan 58 kota baru yang bergabung dalam UNESCO Creative Cities Network (UCCN) — sebuah jaringan global yang menghubungkan kota-kota di seluruh dunia yang menempatkan kreativitas dan budaya sebagai inti dari strategi pembangunan mereka.
Langkah ini bukan sekadar simbolis. Dengan bertambahnya anggota baru, kini jaringan tersebut mencakup lebih dari 350 kota dari lebih 100 negara. Setiap kota anggota membawa keunikan budaya, sejarah, serta potensi ekonomi kreatif yang berbeda-beda, tetapi semuanya memiliki satu kesamaan: menjadikan inovasi dan budaya sebagai pendorong utama kesejahteraan masyarakat.
Apa Itu UNESCO Creative Cities Network (UCCN)?
UNESCO Creative Cities Network dibentuk pada tahun 2004 sebagai wadah bagi kota-kota di seluruh dunia untuk saling belajar, berbagi ide, dan bekerja sama dalam memajukan sektor kreatif. Tujuan utamanya adalah untuk menjadikan budaya dan kreativitas sebagai elemen kunci dalam pembangunan berkelanjutan — baik dalam bidang ekonomi, sosial, maupun lingkungan.
Kota-kota yang bergabung dalam jaringan ini diakui karena kontribusinya dalam salah satu dari tujuh bidang kreativitas utama, yaitu:
-
Sastra (Literature)
-
Film
-
Musik
-
Kerajinan dan Seni Rakyat (Crafts & Folk Art)
-
Desain (Design)
-
Gastronomi (Gastronomy)
-
Media Seni (Media Arts)
Setiap kota yang tergabung diwajibkan untuk mengembangkan kebijakan publik, program pendidikan, dan kegiatan sosial yang memperkuat nilai kreativitas dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. UCCN bukanlah penghargaan yang diberikan sekali saja, melainkan sebuah komitmen jangka panjang untuk terus berinovasi dan bekerja sama di tingkat internasional.
58 Kota Baru: Mewakili Ragam Budaya Dunia
Daftar 58 kota baru yang diumumkan UNESCO tahun 2025 ini memperlihatkan keberagaman geografis dan kultural yang luar biasa. Dari Asia hingga Eropa, dari Afrika hingga Amerika Latin, setiap kota menawarkan contoh bagaimana kreativitas bisa menjadi motor penggerak utama ekonomi lokal.
Sebagai contoh, beberapa kota di Asia Tenggara masuk karena keunggulan di bidang kuliner dan desain. Kota di Amerika Selatan diakui karena kontribusi dalam musik tradisional yang diadaptasi ke bentuk modern. Sementara itu, beberapa kota di Eropa dinobatkan dalam kategori desain dan media seni berkat pengembangan industri kreatif digital.
UNESCO menegaskan bahwa pemilihan kota tidak hanya berdasarkan reputasi budaya yang sudah dikenal dunia, tetapi juga pada komitmen nyata pemerintah lokal dalam menjadikan sektor kreatif sebagai bagian integral dari strategi pembangunan mereka. Dengan kata lain, setiap kota yang terpilih telah menunjukkan bukti nyata keberhasilan kebijakan yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis masyarakat.
Kreativitas Sebagai Kekuatan Ekonomi Baru
Di era digital dan globalisasi ini, kreativitas bukan lagi sekadar ekspresi seni, melainkan juga menjadi sumber ekonomi yang kuat. Kota-kota kreatif biasanya memiliki tingkat inovasi tinggi, industri kreatif yang berkembang pesat, serta masyarakat yang adaptif terhadap perubahan.
UNESCO mencatat bahwa sektor ekonomi kreatif global kini menyumbang lebih dari 3% PDB dunia dan menyediakan jutaan lapangan kerja baru, terutama bagi generasi muda. Industri seperti film, musik, kuliner, game, hingga desain digital menjadi contoh nyata bagaimana kreativitas dapat membuka peluang ekonomi baru tanpa harus bergantung pada sumber daya alam.
Beberapa kota dalam jaringan UCCN bahkan telah berhasil mengubah wajah perekonomian mereka secara signifikan. Misalnya, kota yang dulunya bergantung pada industri manufaktur kini bertransformasi menjadi pusat desain dan teknologi kreatif. Kota-kota lain yang dikenal karena warisan budaya tradisional kini berhasil memadukannya dengan inovasi modern, menciptakan identitas baru yang menarik wisatawan dan investor.
Peran Teknologi dan Kolaborasi Global
Dalam beberapa tahun terakhir, peran teknologi menjadi sangat penting dalam mendorong kreativitas di tingkat kota. Transformasi digital memungkinkan seniman, perancang, dan wirausahawan dari berbagai negara untuk saling berkolaborasi tanpa batas geografis.
UNESCO juga menekankan bahwa jaringan ini bukan hanya tempat berbagi prestasi, tetapi juga wadah belajar bersama. Kota yang baru bergabung dapat mempelajari praktik terbaik dari anggota lama — misalnya bagaimana mengembangkan kebijakan publik untuk mendukung startup kreatif, atau bagaimana mengintegrasikan seni dalam pendidikan dan pariwisata.
Selain itu, kolaborasi antarkota di dalam jaringan sering menghasilkan proyek lintas negara, seperti festival internasional, residensi seniman, program pertukaran pelajar, dan kerja sama riset kreatif. Semua inisiatif ini berkontribusi terhadap pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Pentingnya Kreativitas dalam Pembangunan Berkelanjutan
Salah satu pesan utama UNESCO melalui inisiatif ini adalah bahwa kreativitas merupakan elemen penting dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Kota yang menanamkan nilai budaya dan seni ke dalam sistem ekonominya cenderung memiliki masyarakat yang lebih resilien, toleran, dan inovatif.
Kreativitas tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan mempererat hubungan sosial antarwarga. Dengan menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya lokal, masyarakat menjadi lebih peduli terhadap lingkungan dan lebih terbuka terhadap keragaman.
UNESCO juga menyoroti peran kota kreatif dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, urbanisasi cepat, dan kesenjangan sosial. Misalnya, kota dengan sektor desain yang kuat dapat berkontribusi pada pengembangan arsitektur ramah lingkungan, sementara kota gastronomi dapat mempromosikan pola makan berkelanjutan yang mendukung pertanian lokal.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meskipun jaringan kota kreatif terus berkembang, tantangan tetap ada. Tidak semua kota memiliki sumber daya yang sama untuk mengembangkan sektor kreatifnya. Infrastruktur digital, dukungan finansial, dan akses pendidikan sering kali menjadi kendala, terutama bagi kota-kota di negara berkembang.
Namun, UNESCO berkomitmen untuk membantu melalui program pendampingan, pelatihan, dan pertukaran pengalaman antaranggota. Kota-kota yang lebih maju diharapkan dapat menjadi mentor bagi kota lain yang baru bergabung.
Harapan ke depan adalah agar jaringan ini tidak hanya menjadi simbol prestise, tetapi juga menjadi wadah kolaborasi nyata yang membawa manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat lokal. Kota yang kreatif bukan hanya tempat dengan banyak seniman, melainkan juga tempat yang mampu menumbuhkan peluang baru, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan ruang bagi setiap orang untuk berinovasi.
Kesimpulan
Penambahan 58 kota baru dalam Jaringan Kota Kreatif Dunia merupakan bukti bahwa kreativitas dan budaya kini diakui sebagai fondasi penting pembangunan global. Dunia semakin menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya diukur dari angka PDB, tetapi juga dari sejauh mana masyarakatnya mampu berkreasi, beradaptasi, dan berkolaborasi.
Melalui jaringan ini, UNESCO mengingatkan kita bahwa kota yang benar-benar maju bukanlah kota dengan gedung tertinggi atau ekonomi terbesar, melainkan kota yang mampu memberikan ruang bagi ide-ide segar, menghargai warisan budaya, dan menginspirasi generasi masa depan untuk terus mencipta.
Dengan semangat kolaborasi global, UCCN akan terus menjadi jembatan yang menghubungkan kreativitas, teknologi, dan kemanusiaan — menuju dunia yang lebih inklusif, inovatif, dan berkelanjutan.