Konferensi iklim COP30 menjadi salah satu ajang terpenting dalam sejarah pembahasan perubahan iklim. Namun, tahun ini bukan hanya para pemimpin negara, ilmuwan, atau negosiator yang menyita perhatian dunia. Suara paling keras, paling lantang, dan paling konsisten justru datang dari kelompok yang sering dianggap “masih muda untuk memahami kompleksitas politik global” — yaitu para aktivis pemuda dari berbagai negara.
Dalam beberapa hari terakhir, ribuan pemuda berkumpul di luar gedung konferensi, menggelar aksi damai, diskusi terbuka, pawai besar, hingga panggung kreatif berisi seni, musik, dan orasi. Satu pesan utama mereka menggema dan semakin keras: “Phase out fossil fuels now.” Bagi mereka, penghentian penuh penggunaan bahan bakar fosil bukan sekadar tuntutan teknis, tetapi panggilan moral, hak hidup, dan bentuk perjuangan mempertahankan masa depan.
Generasi yang Melek Fakta dan Tidak Mau Menunggu
Kebenaran mengenai perubahan iklim bukan lagi sesuatu yang dapat ditutup-tutupi. Generasi muda tumbuh dengan data-data ilmiah yang mudah diakses, video penjelasan yang viral, serta laporan yang dapat mereka pelajari langsung dari sumber resmi. Mereka menyaksikan kabar tentang cuaca ekstrem, mencairnya es, kenaikan permukaan laut, hingga krisis pangan yang semakin tidak terprediksi.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang mungkin masih berdebat tentang apakah krisis iklim nyata atau tidak, generasi muda saat ini justru sudah berada pada tahap berikutnya. Mereka tidak memperdebatkan kebenarannya, tetapi mempertanyakan: “Mengapa kita tidak bertindak lebih cepat?”
Bagi mereka, perubahan iklim bukan isu teknis, tetapi realitas hidup. Banyak dari mereka yang sudah mengalami secara langsung bencana banjir, kekeringan panjang, kabut asap akibat kebakaran hutan, gelombang panas ekstrem, atau penurunan kualitas udara yang membuat aktivitas sehari-hari terganggu.
Ketika pengalaman buruk ini datang berkali-kali, dorongan untuk bertindak menjadi kuat. Itulah mengapa tuntutan “phase out fossil fuels” yang berarti menghentikan ketergantungan terhadap minyak, gas, dan batu bara menjadi tema utama aksi mereka.
Aksi Serentak yang Menggugah Dunia
Selama konferensi COP30 berlangsung, aksi pemuda tampak di berbagai tempat. Mereka membawa spanduk besar dengan warna mencolok, membuat mural di ruang publik, hingga melakukan long march dengan yel-yel khas generasi mereka. Kreativitas mereka menjadi alat penyampai pesan yang sangat efektif.
Beberapa aksi yang menonjol antara lain:
-
Pawai Damai Ribuan Pemuda: Mereka berjalan dari titik pusat kota menuju area konferensi sambil menyuarakan slogan tentang keadilan iklim dan masa depan generasi berikutnya.
-
Panggung Terbuka: Aktivis dari berbagai negara, mulai dari negara pulau kecil yang terancam tenggelam, wilayah Afrika yang terancam kekeringan, hingga komunitas Asia dan Amerika Latin yang menghadapi polusi, tampil memberikan kesaksian menyentuh.
-
Simbolik “Jam Waktu Bumi”: Sebuah instalasi berbentuk jam raksasa dipajang untuk melambangkan bahwa waktu dunia semakin habis untuk menjaga pemanasan global tetap berada dalam batas aman.
-
Aksi Diam Serentak: Pada satu momen tertentu, ribuan pemuda berdiri diam selama beberapa menit sebagai simbol bahwa dunia bisa terhenti jika tidak ada tindakan nyata mengurangi emisi.
Aksi-aksi ini bukan hanya menarik perhatian peserta konferensi, tetapi juga media internasional yang menyorot semangat dan keberanian generasi muda dalam memperjuangkan suara mereka.
Mengapa Phase-Out Fossil Fuels Menjadi Tuntutan Utama?
Para pemuda ini memahami bahwa bahan bakar fosil adalah salah satu kontributor utama emisi gas rumah kaca. Mereka juga tahu bahwa dunia sudah memiliki alternatif energi yang lebih bersih seperti tenaga matahari, angin, air, panas bumi, dan teknologi penyimpanan energi yang semakin canggih.
Bagi mereka, pertanyaan bukan lagi “apakah kita bisa beralih?”, tetapi “mengapa kita tidak mulai lebih cepat?”
Beberapa alasan utama mereka mendesak penghentian bahan bakar fosil:
-
Dampak yang sudah dirasakan sekarang, bukan nanti.
Banyak komunitas yang sudah mengalami kerusakan besar akibat krisis iklim. Ini membuat aktivis muda merasa bahwa menunda tindakan berarti membiarkan lebih banyak kerusakan terjadi. -
Masa depan mereka dipertaruhkan.
Kebijakan hari ini akan menentukan bagaimana dunia pada 20 hingga 50 tahun ke depan, dan generasi muda yang akan hidup dalam kondisi tersebut. -
Teknologi energi bersih sudah tersedia.
Dengan perkembangan teknologi, energi terbarukan semakin murah, efisien, dan dapat diterapkan di berbagai wilayah. -
Perusahaan besar dianggap lamban berubah.
Bagi pemuda, hambatan terbesar bukanlah teknologi, melainkan kepentingan ekonomi dan politik yang masih mempertahankan industri bahan bakar fosil. -
Mereka ingin keadilan iklim.
Banyak negara miskin yang paling terkena dampak perubahan iklim, padahal kontribusi mereka terhadap emisi global sangat kecil.
Narasi Kepedulian, Bukan Sekadar Kemarahan
Walaupun aksi mereka terdengar tegas dan keras, inti dari gerakan ini bukan kemarahan. Justru sebaliknya, gerakan ini muncul dari kepedulian mendalam terhadap keluarga, komunitas, alam, dan masa depan umat manusia. Mereka merasa bahwa diam berarti membiarkan generasi berikutnya menanggung risiko yang lebih besar.
Dalam berbagai orasi, para aktivis menegaskan bahwa mereka tidak menentang negara atau industri tertentu. Mereka hanya menuntut agar dunia mengambil tindakan nyata dan berani. Mereka menginginkan sebuah kesepakatan global yang jelas, tegas, dan memiliki target waktu pasti untuk menghentikan penggunaan batu bara, minyak, dan gas.
Tekanan Moral terhadap Para Pemimpin Dunia
Tidak sedikit negosiator dan pemimpin negara yang mengakui bahwa kehadiran pemuda menjadi pengingat penting. Banyak dari mereka mengatakan bahwa suara generasi muda membuat proses negosiasi lebih bermakna, karena tekanan moral semakin terasa.
Para aktivis bukan ahli teknis atau diplomat; mereka adalah suara masa depan. Ketika mereka berbicara tentang ketakutan akan bumi yang tidak lagi layak huni, para pemimpin tidak bisa lagi menganggap isu ini hanya sebagai “perdebatan kebijakan”.
Penutup: Suara Pemuda yang Tidak Bisa Diabaikan
Aksi pemuda di COP30 membuktikan bahwa gerakan lingkungan hidup bukan lagi gerakan pinggiran. Ini adalah gerakan global yang melibatkan jutaan anak muda yang peduli pada masa depan mereka sendiri. Mereka mungkin tidak memiliki kekuasaan formal, tetapi mereka memiliki kekuatan moral yang besar.
Seruan “phase out fossil fuels” yang dikumandangkan ribuan pemuda bukanlah mimpi kosong. Itu adalah gambaran masa depan yang mereka inginkan, masa depan yang lebih bersih, lebih aman, dan lebih adil. Dan jika suara mereka terus menggema di panggung dunia, bukan tidak mungkin perubahan besar benar-benar terjadi.