Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Test link

Skandal Besar Crypto Terkuak: Bitcoin Senilai Rp233 Triliun Dicuri dari Pool Mining LuBian

Skandal besar mengguncang dunia crypto! Bitcoin senilai Rp233 triliun dilaporkan dicuri dari pool mining LuBian.

 



Satu dari Pencurian Kripto Terbesar Sepanjang Sejarah Baru Terungkap

Pada awal Agustus 2025, platform intelijen blockchain Arkham secara mengejutkan mengungkap pencurian besar-besaran terhadap aset kripto Bitcoin (BTC) yang terjadi hampir lima tahun lalu. Kasus ini melibatkan pool mining asal Tiongkok bernama LuBian, yang kehilangan lebih dari 127.000 BTC—senilai sekitar USD 14,5 miliar atau sekitar Rp233 triliun (dengan asumsi kurs BTC sekitar USD 114.000 per koin saat ini).

Yang mengejutkan, kasus sebesar ini tidak terdeteksi oleh publik maupun otoritas selama bertahun-tahun. Arkham menyebutkan bahwa pencurian terjadi antara akhir 2020 hingga awal 2021, namun baru terendus tahun ini berkat penyelidikan mendalam terhadap alur transaksi on-chain.


Bagaimana Pencurian Terjadi?

Menurut laporan Arkham, aset Bitcoin yang dicuri awalnya berada dalam dompet milik LuBian, yang merupakan salah satu mining pool terbesar di Asia kala itu. Pada Desember 2020, tim LuBian sempat merilis pernyataan publik bahwa mereka akan menghentikan operasional karena “masalah keamanan dan risiko yang meningkat”.

Namun di balik pernyataan tersebut, ternyata telah terjadi penarikan mendadak seluruh aset BTC dari dompet resmi pool ke dompet yang tidak dikenal.

Para penyelidik Arkham meyakini bahwa pencurian ini merupakan inside job, alias dilakukan oleh orang dalam atau pihak yang memiliki akses penuh ke wallet LuBian. Analisis terhadap jejak transaksi menunjukkan bahwa lebih dari 127.000 BTC dipindahkan ke beberapa alamat, yang hingga kini masih belum bergerak atau digunakan untuk transaksi lain.


Permintaan Pengembalian Dana yang Tak Biasa

Yang membuat kasus ini makin aneh, tim LuBian disebut diam-diam mencoba berkomunikasi dengan pencuri melalui pesan publik yang disematkan dalam transaksi Bitcoin. Teknik ini biasa digunakan dalam komunitas crypto karena blockchain bersifat transparan dan immutable—artinya, siapa pun bisa menyisipkan pesan dalam transaksi dan membacanya selamanya.

Arkham menyebutkan bahwa pesan tersebut berisi permintaan agar pencuri mengembalikan dana, dan bahkan menawarkan hadiah atau jalan damai. Sayangnya, hingga saat ini tidak ada tanda-tanda respons dari pencuri, dan dana tersebut masih “membeku” di wallet yang diam sejak 2021.


Mengapa Dunia Tidak Tahu Selama Ini?

Fakta bahwa pencurian sebesar ini dapat lolos dari pantauan media dan analis selama bertahun-tahun menimbulkan banyak pertanyaan. Salah satunya adalah karena LuBian menutup operasional tepat setelah pencurian terjadi, serta tidak pernah melaporkan kehilangan BTC ke publik atau otoritas.

Selain itu, pelaku dengan sengaja tidak memindahkan atau mencairkan Bitcoin curian ke bursa (exchange), yang membuat aktivitas mereka tidak terlihat oleh sistem deteksi anti-pencucian uang. Ini berbanding terbalik dengan banyak kasus pencurian crypto lain, di mana pelaku berusaha cepat menjual aset mereka di bursa terdesentralisasi (DEX) atau mencuci melalui mixer seperti Tornado Cash.


Dampaknya Bagi Dunia Kripto

Terungkapnya kasus ini menimbulkan kembali diskusi penting mengenai keamanan aset digital, khususnya bagi platform mining dan perusahaan crypto centralized. Banyak pihak menyerukan pentingnya audit keamanan eksternal dan transparansi manajemen wallet, terutama jika menyimpan aset dalam jumlah besar.

Sebagian analis juga menyoroti bahwa lebih dari 100.000 BTC saat ini berada di tangan pelaku kriminal anonim, yang secara teori bisa menyebabkan gejolak pasar jika suatu hari dana tersebut dilepas dalam jumlah besar.

Namun beberapa pihak menilai bahwa kemungkinan dana tersebut dijual kecil, karena nilai transaksinya terlalu besar untuk tidak menimbulkan kecurigaan. Kemungkinan lainnya adalah pencuri hanya ingin “menyimpan” atau menunggu momen geopolitik atau teknologi baru yang memungkinkan anonimitas lebih tinggi.


Apa Selanjutnya?

Saat ini belum ada tanggapan dari otoritas hukum di Tiongkok, tempat LuBian beroperasi. Arkham mengaku akan terus memantau wallet yang terkait dengan pencurian tersebut dan membuka data bagi publik serta lembaga yang tertarik menindaklanjuti kasus ini.

Di tengah meningkatnya adopsi institusional terhadap Bitcoin, kabar seperti ini kembali menjadi pengingat keras bahwa meski teknologi blockchain bersifat transparan, keamanan bergantung pada manusia dan prosesnya.


📌 Ringkasan Fakta Penting:

FaktaDetail
Pool MiningLuBian (Tiongkok)
BTC Dicuri127.426 BTC
Nilai Saat IniUSD 14,5 miliar (±Rp233 T)
Tanggal KejadianDesember 2020
Tanggal TerungkapAgustus 2025
PelakuTidak dikenal, diduga orang dalam
Status BTCMasih diam, belum dipindahkan
Laporan ResmiBelum ada dari otoritas atau LuBian

Posting Komentar