Senegal menghadirkan sebuah inovasi sosial yang cukup unik dan mendapat perhatian dunia internasional: pendirian “sekolah suami”. Program ini bukanlah institusi pendidikan formal seperti sekolah pada umumnya, melainkan ruang pembelajaran berbasis komunitas yang ditujukan khusus bagi para pria. Tujuannya adalah mendorong perubahan pola pikir terkait peran gender, meningkatkan keterlibatan laki-laki dalam urusan rumah tangga, serta menyelamatkan nyawa para ibu dengan memperbaiki kesadaran kesehatan keluarga.
Latar Belakang Masalah
Di banyak wilayah Afrika Barat, termasuk Senegal, angka kematian ibu saat melahirkan masih cukup tinggi. Hal ini dipicu oleh kurangnya akses layanan kesehatan, keterlambatan penanganan medis, serta budaya patriarki yang masih kental. Dalam banyak kasus, keputusan terkait kesehatan ibu hamil maupun anak sering kali dipegang sepenuhnya oleh suami. Akibatnya, penanganan medis kerap terlambat karena kurangnya pemahaman suami mengenai risiko kesehatan yang dialami istri mereka.
Selain itu, norma sosial yang menempatkan perempuan hanya sebagai pengurus rumah tangga membuat banyak pria kurang terlibat dalam urusan domestik. Mulai dari mengurus anak, membantu pekerjaan rumah, hingga mendukung kebutuhan psikologis istri, sering kali dianggap bukan bagian dari tugas laki-laki.
Konsep “Sekolah Suami”
Melihat kondisi tersebut, pemerintah Senegal bersama sejumlah organisasi kesehatan internasional memperkenalkan program “sekolah suami”. Dalam program ini, para pria diajak berdiskusi secara terbuka mengenai kesehatan reproduksi, gizi keluarga, pola asuh anak, hingga pembagian peran domestik.
Metode pembelajaran dilakukan secara sederhana: pertemuan rutin di desa-desa, simulasi peran keluarga, hingga berbagi pengalaman antar suami. Fasilitator biasanya berasal dari tenaga kesehatan atau tokoh masyarakat yang dihormati. Dengan pendekatan ini, diharapkan para pria bisa lebih memahami pentingnya keterlibatan mereka dalam menjaga kesehatan istri dan anak.
Dampak Positif yang Terlihat
Sejak dijalankan, program ini menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Banyak pria mulai terbiasa menemani istri mereka ke pusat kesehatan ketika hamil, lebih cepat mengambil keputusan saat ada tanda bahaya medis, dan mulai berbagi tanggung jawab rumah tangga.
Beberapa laporan lapangan menunjukkan adanya penurunan kasus keterlambatan penanganan medis yang sebelumnya sering memicu komplikasi saat persalinan. Selain itu, keterlibatan pria dalam urusan rumah tangga membuat para ibu merasa lebih dihargai dan terbantu secara emosional.
Tidak hanya dari aspek kesehatan, “sekolah suami” juga mendorong terjadinya perubahan sosial yang lebih luas. Anak-anak mulai melihat contoh nyata bahwa ayah juga berperan aktif dalam kehidupan rumah tangga, sehingga dapat mengikis stereotip gender yang kaku.
Respon Masyarakat dan Dunia Internasional
Program ini mendapat banyak pujian dari berbagai lembaga internasional, karena dianggap sebagai langkah maju dalam mengatasi ketimpangan gender sekaligus meningkatkan kesehatan masyarakat. Banyak negara berkembang lainnya yang menghadapi persoalan serupa mulai melirik model “sekolah suami” untuk diadaptasi sesuai dengan kondisi sosial budaya mereka.
Namun, program ini juga tidak luput dari tantangan. Masih ada kelompok konservatif yang menilai bahwa inisiatif ini berlawanan dengan tradisi lokal. Meski demikian, dukungan kuat dari generasi muda dan komunitas perempuan membuat program ini semakin mendapat tempat di masyarakat.
Harapan ke Depan
“Sekolah suami” di Senegal menunjukkan bahwa solusi bagi masalah sosial dan kesehatan tidak selalu harus melalui kebijakan besar atau pembangunan infrastruktur semata. Kadang, perubahan dimulai dari ruang-ruang kecil di tingkat komunitas, dengan mengubah cara pandang dan kebiasaan masyarakat.
Keberhasilan Senegal dalam menjalankan program ini diharapkan bisa menjadi inspirasi global. Dengan keterlibatan pria dalam urusan rumah tangga, bukan hanya angka kematian ibu yang bisa ditekan, tetapi juga tercipta keluarga yang lebih harmonis, setara, dan sehat.