Jakarta, 8 Agustus 2025 — Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan signifikan pada perdagangan hari ini, didorong oleh sentimen positif dari pasar global serta sikap Bank Indonesia yang konsisten menjaga stabilitas nilai tukar domestik.
Rupiah Dibuka Menguat
Berdasarkan data perdagangan antar bank pagi ini, rupiah dibuka di level Rp15.200 per dollar AS, menguat dibandingkan penutupan hari sebelumnya di kisaran Rp15.275. Penguatan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia, di tengah redanya ketidakpastian global.
Pasar merespons positif laporan inflasi AS yang menunjukkan penurunan lebih cepat dari perkiraan, memperkuat harapan bahwa Federal Reserve akan mulai memangkas suku bunga acuannya lebih cepat. Situasi ini membuat dollar AS sedikit melemah terhadap banyak mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah.
Faktor Pendukung Penguatan Rupiah
Beberapa faktor kunci yang mendukung penguatan rupiah hari ini antara lain:
-
Data Inflasi AS yang Melemah: Rilis data inflasi inti tahunan AS menunjukkan penurunan ke level 2,5%, jauh dari puncaknya di atas 5% tahun lalu. Hal ini meningkatkan harapan bahwa era suku bunga tinggi di AS akan segera berakhir.
-
Cadangan Devisa Indonesia Menguat: Bank Indonesia melaporkan kenaikan cadangan devisa pada bulan Juli, yang kini mencapai USD 140 miliar, menandakan kekuatan sektor eksternal Indonesia.
-
Harga Komoditas Stabil: Harga komoditas unggulan ekspor Indonesia seperti batu bara dan CPO (crude palm oil) kembali stabil setelah sempat anjlok pada kuartal sebelumnya.
-
Aliran Modal Asing Masuk ke Obligasi RI: Investor global kembali memborong Surat Berharga Negara (SBN), seiring sentimen risk-on di pasar keuangan.
Dampak terhadap Perekonomian Domestik
Penguatan rupiah membawa angin segar bagi beberapa sektor, terutama industri yang mengandalkan bahan baku impor seperti otomotif, farmasi, dan elektronik. Biaya impor yang lebih murah akan membantu menjaga margin keuntungan di tengah tekanan harga dalam negeri.
Di sisi lain, sektor ekspor perlu waspada. Kuatnya rupiah bisa mengurangi daya saing harga ekspor Indonesia di pasar global. Namun, analis menyatakan bahwa selama penguatan rupiah masih berada di bawah Rp15.000, efek negatif terhadap ekspor masih tergolong minimal.
Pandangan Analis dan Proyeksi
Ekonom dari berbagai institusi menyebutkan bahwa rupiah berpotensi bergerak dalam kisaran Rp15.100 – Rp15.250 dalam beberapa hari ke depan, tergantung pada rilis data ekonomi global serta sikap The Fed. Namun, Bank Indonesia diyakini tetap berada di pasar untuk menjaga kestabilan nilai tukar.
Menurut Rina Astuti, Ekonom dari Mandiri Sekuritas:
“Pasar menanti pidato Gubernur The Fed pekan depan. Jika sinyal dovish kembali ditegaskan, rupiah bisa menguat lebih lanjut hingga menyentuh level psikologis Rp15.000 per dolar.”
Kesimpulan
Secara keseluruhan, penguatan rupiah terhadap dollar AS hari ini mencerminkan optimisme pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional serta meredanya tekanan global. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat kondisi eksternal dapat berubah sewaktu-waktu.
Masyarakat, pelaku bisnis, dan investor disarankan untuk terus mengikuti perkembangan nilai tukar, terutama menjelang rapat kebijakan moneter The Fed dan BI yang akan datang.