Dengan semakin dekatnya gelaran Piala Dunia 2026, dunia sepak bola kembali diguncang oleh pernyataan kontroversial. Beberapa pelatih dan analis mengusulkan agar tim nasional dari kawasan Eropa dikecualikan dari proses kualifikasi. Ide ini sontak menuai perhatian luas, bukan hanya karena sifatnya yang mengejutkan, tetapi juga karena menyinggung keseimbangan kompetisi yang telah lama dijaga FIFA.
Dominasi Eropa dalam Piala Dunia
Sejak dekade terakhir, tim-tim Eropa telah mendominasi Piala Dunia. Juara dunia dalam empat edisi terakhir semuanya berasal dari benua biru: Italia (2006), Spanyol (2010), Jerman (2014), dan Prancis (2018). Bahkan di edisi 2022 lalu, tiga dari empat semifinalis berasal dari Eropa. Hal ini menimbulkan kritik bahwa turnamen global seakan-akan telah menjadi “ajang Eropa plus beberapa undangan” alih-alih pesta dunia.
Kritik tersebut makin menguat ketika melihat fakta bahwa banyak tim dari Asia, Afrika, dan Amerika Selatan kerap kesulitan menembus babak-babak akhir. Beberapa pelatih dari luar Eropa menilai bahwa sistem kualifikasi saat ini terlalu menguntungkan negara-negara dengan liga domestik kuat, infrastruktur mapan, serta tradisi panjang dalam sepak bola.
Usulan Pengecualian: Alasan dan Pro Kontra
Gagasan mengecualikan Eropa dari kualifikasi tentu bukan berarti melarang mereka tampil di Piala Dunia. Sebagian pendukung ide ini beranggapan bahwa tim Eropa bisa langsung diberi slot khusus, sementara proses kualifikasi lebih difokuskan pada kawasan lain. Dengan demikian, turnamen kualifikasi akan memberi ruang lebih besar bagi negara-negara non-Eropa untuk berkembang.
Namun, pihak lain melihat usulan tersebut tidak realistis. Menghapus Eropa dari kualifikasi dianggap dapat merusak integritas kompetisi. Proses kualifikasi bukan hanya soal distribusi tiket, tetapi juga bagian dari sejarah, rivalitas, dan kesempatan bagi tim besar maupun kecil untuk menguji diri. Selain itu, tidak ada jaminan bahwa mengurangi peran Eropa otomatis meningkatkan daya saing benua lain.
Perubahan Format Piala Dunia 2026
Kontroversi ini muncul di tengah persiapan format baru Piala Dunia 2026. Turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu bakal diikuti 48 tim, meningkat dari 32 tim pada edisi sebelumnya. Dengan jumlah peserta yang lebih banyak, FIFA telah menambah jatah kualifikasi untuk Asia, Afrika, dan Amerika Selatan.
Bagi sebagian pihak, penambahan slot sudah cukup menjadi solusi tanpa harus menyingkirkan Eropa dari proses seleksi. Namun, bagi pihak yang merasa kesempatan masih timpang, langkah tersebut dianggap belum memadai.
Dampak pada Dunia Sepak Bola
Jika wacana ini benar-benar diadopsi, dampaknya bisa sangat luas. Dari sisi komersial, absennya laga kualifikasi Eropa akan mengurangi daya tarik hak siar dan pendapatan sponsor. Dari sisi teknis, tim-tim Eropa berpotensi tampil kurang kompetitif karena kehilangan pengalaman pertandingan resmi sebelum turnamen utama.
Di sisi lain, ada kemungkinan positif bagi benua lain. Negara-negara Asia atau Afrika bisa lebih sering tampil di Piala Dunia, memberikan pengalaman berharga bagi pemain mereka, sekaligus mendorong perkembangan infrastruktur sepak bola di kawasan tersebut.
Kesimpulan
Kurang dari 300 hari menuju Piala Dunia 2026, dunia sepak bola tidak hanya disibukkan dengan persiapan teknis, tetapi juga perdebatan tentang keadilan global dalam olahraga paling populer ini. Apakah benar dominasi Eropa telah terlalu jauh? Ataukah kompetisi seharusnya tetap dibiarkan terbuka dengan aturan yang sama untuk semua?
Yang jelas, Piala Dunia 2026 diprediksi bukan hanya akan menjadi turnamen terbesar secara jumlah peserta, tetapi juga ajang yang sarat kontroversi sejak jauh sebelum kick-off pertama dimulai.