Washington, 31 Juli 2025 — Nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) mengalami penurunan signifikan terhadap sejumlah mata uang utama dunia setelah data ketenagakerjaan (non-farm payrolls) yang dirilis hari ini menunjukkan pertumbuhan yang jauh di bawah ekspektasi. Pelaku pasar pun segera menyesuaikan kembali ekspektasi mereka terkait kebijakan suku bunga The Federal Reserve, dengan meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Data Ketenagakerjaan Mengecewakan Pasar
Departemen Ketenagakerjaan AS melaporkan bahwa jumlah lapangan kerja baru yang tercipta pada bulan Juli hanya mencapai 73.000, jauh lebih rendah dari perkiraan para analis yang berkisar di angka 110.000–120.000. Selain itu, data bulan Juni direvisi turun secara signifikan dari 136.000 menjadi hanya 78.000, memperlihatkan kelemahan struktural dalam pertumbuhan pasar tenaga kerja.
Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,1%, dari sebelumnya 4,0%, mencerminkan penurunan partisipasi tenaga kerja serta berkurangnya aktivitas perekrutan oleh pelaku usaha.
Reaksi Pasar Finansial
Menyusul data ini, indeks dolar (DXY) — yang mengukur kekuatan USD terhadap sekeranjang enam mata uang utama — turun drastis ke level 101,30, terendah dalam dua bulan terakhir. Mata uang euro dan yen Jepang menguat tajam, masing-masing naik 0,7% dan 0,6% terhadap dolar AS.
Obligasi pemerintah AS mengalami lonjakan permintaan. Yield obligasi tenor dua tahun — yang sensitif terhadap kebijakan suku bunga — anjlok ke 3,79%, turun dari 4,05% sehari sebelumnya. Pergerakan ini mencerminkan peningkatan spekulasi bahwa The Fed akan segera menurunkan suku bunga acuannya untuk mendorong kembali pertumbuhan ekonomi.
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga oleh The Fed
Dengan lemahnya data tenaga kerja terbaru ini, pelaku pasar kini memperkirakan probabilitas pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada pertemuan FOMC bulan September mendatang meningkat menjadi lebih dari 90%. Sebelumnya, ekspektasi pemangkasan berada di bawah 60% karena inflasi masih relatif tinggi dan pertumbuhan ekonomi kuartal II tercatat stabil.
Namun, data pekerjaan yang lemah mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja — yang selama ini menjadi pilar kekuatan ekonomi AS — kini mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Hal ini dapat menjadi alasan kuat bagi The Fed untuk mulai melonggarkan kebijakan moneternya lebih cepat dari perkiraan awal.
Komentar Ekonom
Menurut analis senior dari Bank of America, Clara Reynolds, data ini "menjadi lampu kuning yang sangat jelas bagi perekonomian AS. Kombinasi dari lemahnya penciptaan lapangan kerja dan meningkatnya pengangguran akan memaksa The Fed untuk bertindak cepat."
Sementara itu, kepala strategi global di JP Morgan, Ethan Patel, menyebut bahwa "dolar kemungkinan akan terus melemah dalam jangka pendek, terutama jika data inflasi bulan depan juga menurun."
Dampak Global dan Regional
Pelemahan dolar AS turut mengangkat nilai tukar mata uang pasar berkembang, termasuk rupiah Indonesia, peso Meksiko, dan won Korea Selatan. Di Asia, investor mulai meningkatkan eksposur pada aset berisiko karena prospek suku bunga AS yang lebih rendah bisa meningkatkan aliran modal ke negara-negara berkembang.
Harga komoditas seperti emas dan minyak juga mengalami penguatan. Harga emas naik ke $2.125 per troy ounce, sementara harga minyak Brent mendekati $89 per barel, didukung oleh prospek pelemahan dolar yang membuat harga komoditas menjadi lebih murah bagi pembeli global.
Kesimpulan
Dolar AS saat ini berada dalam tekanan besar menyusul data ketenagakerjaan yang mengecewakan. Dengan meningkatnya ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat, tren pelemahan dolar kemungkinan akan berlanjut. Investor global kini mengalihkan fokus mereka pada data inflasi AS berikutnya dan pernyataan para pejabat The Fed sebagai indikator arah kebijakan moneter selanjutnya.